ALGHAZALI SERTA PEMIKIRANNYA TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN

Kalau kita mendegar nama Imam Al-Ghazali tentu sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Al-Ghazali merupakan salah seorang dari imam besar umat islam, tokoh yang sangat dikenal sampai ke seantero dunia islam. Selain itu banyak sekali pemikiran dan pengaruhnya yang sangat luas dalam kalangan umat islam. Selain ahli dalam bidang tasawuf, beliau juga ahli dalam bidang filsafat. Sebagaimana yang dikenal dalam dunia islam, beliau merupakan sosok yang bias dikatakan istimewa, beliau seorang ulama yang ahli dalam berbagai bidang ilmu, seorang pendidik, ahli fakir dan juga merupakan seorang pengarang dari berbagai kitab yang sampai sekarang masih menjadi pegangan bagi umat islam.

Sosok Al-Ghazali merupakan sosok yang banyak melakukan perjalanan ke berbagai tempat untuk menuntut ilmu. Hasil dari menuntut ilmu tersebut, beliau tuangkan dalam bentuk pemikiran-pemikiran beliau yang dituangkan dalam kitab-kitab beliau. Beliau juga melakukan pengkajian yang cukup mendalam dalam bidang filsafat dan teologi, sufi dan bahkan juga mengkaji tentang ajaran-ajaran Kristen. Ironisnya sejarah dan perjalanan hidupnya masih terasa asing. Kebanyakan kaum muslimin belum mengetahui secara lengkap sejarah hidup dan  pemikiran-pemikirannya yang berharga yang tersebar dalam karya tulisnya.

Salah satu dari buah pemikiran beliau yang banyak menjadi rujukan oleh beberapa ulama yang sampai sekarang ialah pemikiran beliau tentang pendidikan. Oleh karena itu, untuk mengenal Al-Ghazali lebih mendalam lagi, serta mengenal konsep pemikiran beliau mengenai pendidikan maka penulis aka menceritakan lebih lajut dibawah ini

A.    Sejarah Hidup Imam Al-Ghazali

Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Ia lahir di kota Ghazalah, sebuah kota kecil di dekat Tus di Khurasan Iran pada tahun 450 H/ 1059 M yang ketika itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia Islam lahir di desa Thus. Nama Al Ghazali dan at Tusi diambil dari tempat lahirnya. Menurut cerita yang berkembang Ia lahir dari keluarga yang taat beragama, dengan ayah yang shaleh yang selalu menghadiri majelis para ulama untuk mencari ilmu pengetahuan.


Diceritakan juga bahwa secara keuangan keluarganya bukanlah berasal dari orang kaya. Ayah beliau hanyalah seorang pemintal wol di kota Tus. Meskipun demikian namun ayahnya sangat memperhatikan sekali pendidikan akan putra-putranya. Latar belakang pendidikannya dimulai dengan belajar Al-Qur’an pada ayahnya sendiri. Sejak kecil, Al-Ghazali memang orang yang sangat mencintai imu pengetahuan, orang yang suka mencari kebenaran yang sebenarnya sekalupun kondisi beliau yang tidak menguntungkan dan selalu diterpa duka namun hal tersebut tidak menggoyahkan semangat beliau untuk mencari ilmu pengetahuan.

Sepeninggal ayahnya, Al-Ghazali diasuh oleh teman ayahnya sampai sanggup beliau untuk mengasuh. Selama dalam pengasuhan tema ayahnya tersebut, beliau disekolahkan dan disempurnakan pendidikan. Tidak beberapa setelah itu, teman ayahnya menyerahkan pendidikan Al-Ghazali kepada seorang sufi yang memiliki sekolah. AI Ghazali belajar kepada Ahmad bin Muhammad ar Razikani, seorang sufi besar. Kemudian ia dimasukkan ke sebuah sekolah yang menyediakan biaya hidup bagi para muridnya. Di sini gurunya adalah Yusuf an-Nassaj juga seorang sufi. Setelah tamat, la melanjutkan pelajarannya ke kota Jurjan yang ketika itu juga menjadi pusat kegiatan ilmiah. Gurunya. Di antaranya, Imam Abu Nasr Al-Ismaili, karena kurang puas ia kembali ke Tus. Beberapa tahun kemudian, ia pergi ke Nisabur dan di sana memasuki madrasah Nizamiah yang dipimpin oleh ulama besar, Imam al Haramain Al Juwaini, salah seorang tokoh aliran Asy’ariyah.

Imam Al-Ghazali memang orang yang cerdas yang sanggup mendebat semua orang yang tidak sesuai dengan penalaran yang benar sehingga imam Al-Juwaini sempat memberi predikat kepada beliau sebagai orang yang memiliki ilmu yang sangat luas bagaikan “laut dalam nan menenggelamkan”. Setelah Al-Juwaini meninggal dunia, Al-Ghazali meninggalkan Nisabur menuju ke istana Nidzam Al-Mulk yang menjadi perdana menteri sultan Bani Saljuk[1].

Selama berada di istana Nizam Al-Mulk, Al-Ghazali mengikuti majelis ulama yang ada disana. Ketika berada pada majelis ulama tersebut, beliau mendapatkan sambutan yang hangat serta mendapatkan kesempatan untuk berdebat dengan para ulama yang ada disana. Adapun hasil dari perdebatan tersebut ialah bahwa Al-Ghazali mampu mengalahkan para ulama tersebut dengan kefasihan, ketinggian ilmu filsafatnya, kekayaan ilmu pengetahuan yang dimilkinya. Oleh Karen itu perdana menteri Nizam Al-Mulk meminta beliau untuk mengajar pada universitas yang ia dirikan di Baghdad. Setelah mendapatkan tawaran tersebut beliaupun berangkat ke Baghdad memenuhi permintaan dari perdana menteri tersebut.

Ditengah kesibukannya mengajar pada unniversitas tersebut, beliau masih sempat juga mempelajari beberapa bidang ilmu pengetahuan untuk memnuhi kebahagian kalbu beliau, seperti mempelajari filsafat yunani dan filsafat klasik. Berbagai kegiatan belajar dan mengajar beliau jalani kurag lebih selama 4 tahun namun beliau merasakan masih ada yang mengganjal dihati beliau. Oleh karena itu beliau mengambil suatu keputusan untuk berhenti mengajar dan meninggalkan Baghdad. Hal ini diterima oleh perdana menteri, dan beliaupun pergi berkelana ke berbagai tempat.

Selama berkelana tersebut, beliau pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan setelah itu beliaupun kembali hijrah ke Syam, dan menetap di Jami’ Umawy dengan kegiatan penuh ibadah. Hal ini dimaksudkan agar beliau memperoleh ke zuhudan dan meninggalkan kemewahan duniawi. Tidak terbatas itu saja, beliaupun mengembara ke berbagai padang pasir untuk melatih zuhud serta mendalami berbagai masalah keruhanian dan penghayatan yang mendalam tentang agama.

Setelah melakukan pengembaraan yang panjang, akhirnya beliau kembali lagi ke Baghdad untuk mngajar disana. Beliau kembali ke Baghdad dikarenakan atas permintaan dari Fakhrul Mulk putra dari Nidzam Mulk untuk kembali mengajar di universitas tersebut. Tidak lama setelah itu, Al-Ghazali kembali ke kota kelahirannya di Thus mengasuh sebuah pesantren sufi dan wafat tidak lama setelah itu. Beliau wafat sekitar tahun 1111 M.

B.     Karya-karya Imam Al-Ghazali

Selama hidupnya Al-Ghazali mengarang beberapa kitab yang sangat terkenal hingga sekarang. Kitab-kitab beliau masih digunakan oleh orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Ada beberapa diantara kitab karangan beliau:

  1. Ihya Ulumuddin, merupakan kitab yang sangat penting dan masyur mengenai ilmu kalam, tasawuf dan akhlak
  2. Ayyuhal Walad, merupakan sebuah kitab tentang akhlak.
  3. Al-munqizu min ad Dhalal, merupakan sebuah kitab yang menceritakan tentang pengakuan beliau selama berada dalam keraguan sampai mengubah pandangan tentang nilai-nilai kehidupan
  4. Maqasidul Falasifah dan Tahaful Falasifah, merupakan kitab yang membahas mengenai filsafat[2]

C.    Konsep Pemikiran Tentang Pendidikan

Sebaimana yang telah disinggung oleh penulis sedikit diatas, Al-Ghazali merupakan seorang pemikir islam yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan. Sebagai seorang yang sangat memperhatikan dunia pendidikan dan pengajaran, oleh karena itu ia menyimpulkan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sejak masa kejadiannya sampi akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap di mana proses pengajaran itu menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat. Maka sistem pendidikan itu haruslah mempunyai filsafat yang mengarahkan kepada tujuan yang jelas.

Dalam hal merumuskan mengena pendidikan, beliau banyak dipengaruhi oleh bidang ilmu yang beliau kuasai. Dalam rumusan tersebut, tampak dengan jelas sekali beliau menggabungkan dua konsep ilmu untuk merumuskan mengenai pendidikan ini. Cirri khas dari konsep pendidikan yang diberikan oleh Al-Ghazali ialah konsep pendidikan moral yang bernilai religius serta tanpa mengabaikan urusan-urusan duniawi untuk mencapai hal tersebut.

1.      Peranan Pendidikan

Al-Ghazali merupakan salah satu diantara tokoh yang memberikan perhatian terhadap dunia pendidikan. Sebagaimana pendapat beliau mengatakan bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat menentukan bagi corak kehidupan suatu masyarakat dan suatu bangsa. Hal ini dapat dijelaskan bahwa kalaulah suatu bangsa memiliki pendidikan yang baik yang diberikan kepada masyarakat tentu lah akan baik kehidupan suatu bangsa tersebut, begitu pun sebaliknya.

Dalam masalah pendidikan, Al-Ghazali lebih cenderung memiliki paham empirisme. Hal ini anatara lain disebabkan karena ia sangat menekankan pengaruh pendidikan terhadap anak didik. Menurutnya seorang anak didik tergantung kepada orang tua dan lingkungan yang mendidiknya[3].

Tentulah makna diatas dapat dijelaskan secara sederhana bahwa seorang anak tersebut akan menjadi seperti apa yang diajarkan oleh orag tua dan lingkungannya. Seorang anak yang lahir kedua ini ibaratkan seperti kertas putih yang kosong, yang belum memiliki coretan-coretan diatas kertas tersebut. Maka yang akan mengisi kertas kosong tersebut adalah orang tua serta lingkungan yang sangat berperan dalam hal ini.

Pandangan diatas tersebut sejalan dengan hadis nabi yang menjelaskan tentang anak yang dilahirkan oleh orang tuanya. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Muslim

“setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan bersih, kedua orang tuanya lah yang menyebabkan anak itu menjadi penganut yahudi, nasrani atau majusi” (H.R. Muslim)

Hadis diatas dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwa, seorang anak yang dilahirkan jika menerima sesuatu ajaran serta kebiasaan yang baik, maka anak tersebut akan mejadi baik. Begitu juga sebaliknya, jika anak tersebut menerima ajaran dan kebiasaan yang buruk maka anak tersebut akan menjadi buruk pula akhlaknya dikemudian hari.

2.      Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan menurut Al-Ghazali ialah untuk mendekatkan diri pada Allah, bukan untuk mencari kedudukan, kemegahan, dan kegagahan atau untuk mendapatkan kedudukan yang menghasilkan uang. Karena jika tujuan pendidikan itu diarahkan bukan pada mendekatkan diri pada Allah, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian dan permusuhan[4].

Rumusan mengenai tujuan pendidikan diatas oleh Al-Ghazali didasakan kepada tujuan manusia diciptakan. Manusia diciptakan oleh bukan untuk bermain-main atau untuk hal yang sia-sia belaka, namun manusia diciptakan oleh Allah atas landasan beribadah kepada Allah. Hal Sebagaimana yang telah di sebutkan oleh Allah dalam firman nya surat Al-Dzariat ayat 56

Artinya: dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Selanjutnya menurut beliau, tujuan akhir dari pendidikan itu sendiri adalah agar manusia bisa mendekatkan diri pada Allah sebagai sang khalik serta menjadikan manusia yang menuntut ilmu tersebut memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Rumusan diatas dapat dikatakan adalah hasil gabungan dari pendidikan moral dan religius dengan kata lain bahwa Al-Ghazali merumuskan suatu konsep berdasarkan ajaran tasawuf tanpa mengabaikan urusan dunia. Sebagaimana yang kita tahu bahwa orang yang menuntut ilmu tentu juga membutuhkan berbagai sarana dan prasarana untuk menunjang proses pendidikan agar bisa berlangsung dengan baik.

Dalam ajaran tasawuf yang menganggap bahwa dunia ini akan rusak dan binasa dan maut dapat memutuskan kesenangan yang dirasa manusia di dunia ini. Bagi ajaran tasawuf dunia ini merupakan sebagai sarana untuk mencari bekal hidup di akhirat nanti, karena akhirat merupakan tempat terakhir yang akan dihuni oleh manusia seteah hari kiamat datang. Hal ini disebutkan jelas oleh Allah dalam surat Al-Hadid ayat 20

Artinya: ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu

3.      Kurikulum Pendidikan

Adapun pengertian kurikulum secara etimologi berasal dari bahasa latin (suatu jarak yg harus ditempuh dalam pertandingan olahraga) kemudian yg dialihkan kedalam pengertian pendidikan menjadi suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat didalamnya. Dan secara termenologi adl menunjukkan tentang segala mata pelajaran yg dipelajarai dan juga semua pengalamam yg harus diperoleh serta semua kegiatan yg harus dilakukan anak.

Ada juga yang mengartikan bahwa bahwa kurikulum merupakan sekumpulan mata pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik dengan tujuan untuk menanamkan berbagai macam pengetahuan yag dibutuhkan oleh peserta didik agar nantinya pengetahuan yang diperoleh oleh peserta didik selama proses pendidikan mampu diterapkan dilingkungan masyarakat tempat peserta didik menetap.

Pandangan Al-Ghazali mengenai kurikulum dapat dilihat dari pandangan beliau tentang ilmu pengetahuan. Hakekat ilmu menurut Al-Ghazali adalah suatu ilmu yang semata-mata merupakan milik Allah, sedangkan manusialah yang hanya diberi hak untuk mencari dan mengembangkannya. Dengan kata lain usaha mengembangkan ilmu yang diperoleh oleh manusia tersebut tergantung pada kemamuan pribadi manusia tersebut.

Selanjutnya dalam pandangan beliau mengenai ilmu pengetahuan itu terbagi pada tiga bagian, sebagai berikut[5]

1)     Ilmu-ilmu yang terkutuk, baik sedikit maupun banyak, yaitu ilmu yang tidak memberi mamfaat dan bisa memberikan kemudharatan kepada orang lain, seperti ilmu sihir, ilmu nujum dan ilmu ramalan.

2)     Ilmu-ilmu yang terpuji baik sedikit maupun banyak, yaitu ilmu yang erat kaitannya dengan peribadatan dan macam-macamnya, seperti ilmu yang berkaitan dengan kebersihan diri dari cacat dan dosa serta ilmu yang dapat menjadi bekal bagi seseorang untuk mengetahui yang baik dan melaksanakannya, ilmu-ilmu yang mengajarkan manusia tentang cara-cara mendekatkan diri kepada Allah

3)      Ilmu-ilmu yang terpuji dalam kadar tertentu, atau sedikit dan tercela jika dipelajari secara mendalam karena dengan mempelajarinya secara mendalam itu dapat menyebabkan kekacauan dan kesemrawutan anatara keyakinan dan keraguan

Lebih lanjut dikatakan oleh Al-Ghazali bahwa setiap ilmu tersebut berbeda, baik itu ilmu Aqliyah maupun ilmu Amaliyah, serta tidak sama juga keutamaan dari ilmu tersebut. Menurut beliau perbedaan itu terjadi disebabkan oleh beberapa hal[6]

1)     Melihat kepada daya yang digunakan untuk menguasainya. Karena itu ia melihat bahwa ilmu-ilmu aqliyah lebih tinggi nilainya dari pada ilmu bahasa, karena ia dicapai melalui akal, sedangkan yang kedua dicapai melalui pendengaran dan akal lebih mulia dari pada pendengara

2)     Melihat kepada besar dan kecilnya mamfaat yang didapat manusia dari padanya. Maka pertanian lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan pandai besi, karena pertanian lebih banyak memberikan konstribusi kepada masyarakat dari pada pandai besi yang hanya sebagai hiasan.

3)      Melihat kepada tempat mempelajarinya.

Dari penajabaran diatas dapat ditarik suatu kesimulan bahwa yang paling tinggi derajatanya ialah ilmu agama dan segala cabangnya, karena ilmu agama tersebut hanya dapat dikuasai dengan akal yang sehat dan sempurna serta melalui daya tangkap yang tajam dan jernih Dalam menuyusun rangkain mata pelajaran dalam kurikulum, Al-Ghazali lebih menitik beratkan pada mata pelajaran agama dan etika yang sangat berguna dalam kehidupan masyarakat

Oleh karena itu kurikulum menggambarkan kegiatan belajar mengajar dalam suatu lembaga kependidikan tak hanya dijabarkan serangkai ilmu pengetahuan yg harus diajarkan pendidik kepada anak didik dan anak didik mempelajarinya. Tetapi juga segala kegiatan yg bersifat kependidikan yg dipandang perlu karena mempunyai pengaruh terhadap anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam.

4.      Pendidik

Secara defenisi, dapat diartikan pendidik tersebut sebagai orang yang memiliki tanggung jawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan potensi anak didik. Pendidik merupakan orang yang harus ada mendampingi anak didik yang bertugas membantu dan mengarahkan anak didik untuk memenuhi kebutuhan akan ilmu pengetahuan yang dicari oleh anak didik tersebut. Pendidik harus mampu mengarahkan peserta didik yang menjadi tanggungannya agar nantinya peserta didik tersebut tidak keluar dari jalur yang telah ditentukan dalam dunia pendidikan.

Al-Ghazali mempergunakan istilah guru dengan berbagai kata, al-muallim (guru), al-mudarris (pendidik), dan al-walid (orang tua). Sehingga guru dalam arti umum, yaitu seseorang yang bertugas dan bertanggung jawab atas pendidikan dan pengajaran. Menurutnya, guru adalah seseorang yang bertanggung jawab atas pendidikan dan pengajaran, serta bertugas untuk menyempurnakan, mensucikan dan menjernihkan serta membimbing anak didiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Perhatian Al-Ghazali akan pendidikan agama dan moral sejalan dengan kecenderungan pendidikannya secara umum, yaitu prinsip-prinsip yang berkaitan secara khusus dengan sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam melaksanakan tugasnya.Tentang pentingnya keteladanan utama dari seorang guru, juga dikaitkan dengan pandangannya tentang pekerjaan mengajar. Menurutnya mengajar adalah pekerjaan yang paling mulia sekaligus yang paling agung .pendapatnya ini, ia kuatkan dengan beberapa ayat Al-quran dan hadits Nabi yang mengatakan status guru sejajar dengan tugas kenabian. Lebih lanjut Al-Ghazali mengatakan bahwa wujud termulia di muka bumi adalah manusia, dan bagian inti manusia yang termulia adalah hatinya. Guru bertugas menyempurnakan, menghias, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Al-Ghazali, menurut beliau bahwa keberadaan pendidik sangatlah harus, tanpa adanya pendidik mustahil pendidikan akan berhasil. Lebih lanjut menurut beliau dikatakan bahwa seorang pendidik tersebut haruslah seorang yang cerdas akalnya serta memilki kekuatan fisik yang kuat dengan tujuan agar mampu mengontrol peserta didik yang menjadi tanggungannya.

Seorang pendidik yang mempunyai kecerdasan akan mampu memberikan bimbingan kepada peserta didiknya untuk dapat memahami materi pelajaran dengan baik serta pendidik yang memiliki akhlak yang baik juga akan mampu memberikan contoh yang baik dalam pergaulan dengan sesama kepada peserta didiknya.

Lebih lanjut menurut Al-Ghazali menyatakan bahwa seorang pendidik itu juga harus memiliki sifat-sifat diantara lain[7]

  1. Pendidik hendaknya memandang peserta didik sebagai anaknya sendiri, menyayangi dan memperlakukan mereka seperti anak sendiri.
  2. Dalam menjalankan tugasnya, seorang pendidik hendaknya tidak mengharapkan upah atau pujian, tetapi hanya mengharapkan keridhaan Allah.

Pemikiran ini berdasarkan pada firman Allah dalam surat Hud ayat 29

Artinya: dan (dia berkata): “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah

  1. Pendidik hendaknya memanfaatkan setiap waktu luang untuk memberi nasehat dan bimbingan kepada peserta didik, bahwa tujuan menuntut ilmu adalah mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk memperoleh kedudukan atau kebanggaan duniawi
  2. Terhadap peserta didik yang memiliki tingkah laku buruk, hendknya pendidik menegurnya sebisa mungkin dengan cara menyindir dan penuh kasih sayang, bukan dengan terus terang dan mencela, sebab teguran yang terakhir dapat membuat peserta didik membangkang dan sengaja terus menerus bertingkah laku buruk.
  3. Hendaknya pendidik tidak fanatik terhadap bidang studi yang diasuhnya, lalu mencela bidang studi yang diasuh oleh pendidik yang lainn.
  4. Hendaknya pendidik memperhatikan perkembangan berpikir peserta didik agar dapat menyampaikan ilmu sesuai dengan kemampuan berpikirnya
  5. Hendaknya pendidik memperhatikan peserta didik yang lemah dengan memberikannya pelajaran yang mudah dan jelas, dan tidak menghantuinya dengan berbagai hal-hal yang serba sulit dan dapat membuatnya kehilangan kecintaan terhadap pelajaran.
  6. 8.      Hendaknya pendidik mengamalkan ilmunya dan tidak sebaliknya, dimana perbuatannya bertentangan dengan ilmu yang diajarkan kepada peserta didik. Hal ini sesuai dengan firman Allah surat Al-Baqarah ayat 44

Artinya: mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?

Penjelasan diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa peranan seorang pendidik bagi pertumbuhan dan perkembangan potensi peserta didik sangat dibutuhkan sekali. Seorang pendidik haruslah orang yang cerdas serta memilki akhlak yang mulia, tidak hanya dari segi rohani saja namun juga dari segi fisik. Segi fisik juga menentukan karena seoarang pendidik harus bisa mengontrol peserta didiknya yang banyak dan juga diharapkan pendidik tersebut mampu menjadi contoh yang baik bagi peserta didiknya.

5.      Peserta Didik

Peserta didik merupakan salah satu komponen dalam dunia pendidikan yang memiliki peran yang penting. Pendidikan akan berjalan dengan lancar kalau peserta didik tersebut menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Setiap peserta didik memiliki potensi yang ada dalam dirinya yang ingin ia kembangkan melalui pendidikan. Dalam ajaran islam dikatakan bahwa pendidikan itu berlangsung seumur hidup. Hal ini didasarkan pada salah satu hadis nabi yang mengatakan bahwa “tuntutlah ilmu tersebut dari ayunan sampai liang lahat”. Dari hadis tersebut terkandung makna bahwa walau pendidikan itu penting, dan harus dimulai sejak dari ayunan atau sejak masa bayi

Dalam masa pendidikan tersebut, peserta didik tentu tidak bisa dengan sendirinya melaksanakan pendidikan tersebut. Peserta membutuhkan bantuan dari berbagai pihak terutama seorang pendidik atau seorang guru. Mereka membutuhkan bimbingan, tuntunan, penyuluhan, bimbingan dan kasih sayang dari seorang pendidik yang sesuai dengan usia pertumbuhannya, jenjang pendidikan seta potensi dan kecenderungannya.

Dalam menjelaskan peserta didik Al-Ghozali menggunakan dua kata yakni, Al-Muta’allim (pelajar) dan Thalib Al-Ilmi (penuntut ilmu pengetahuan). Namun, bila kita melihat peserta didik secara makna luas yang dimaksud dengan peserta didik adalah seluruh manusia mulai dari awal konsepsi hingga manusia usi lanjut. Selanjutnya, karena dalam pembahasan ini hanya terkonsentrasi pada wilayah pendidikan formal maka bahasa peserta didik terbebani hanya bagi mereka yang melaksanakan pendidikan di lembaga pendidikan sekolah. Pemikiran Al-Ghozali yang sangat luas dan memadukan antara dua komponen keilmuan, sehingga menghantarkan pemahaman bahwa konsep peserta didik menurutnya peserta didik adalah manusia yang fitrah.

Imam Al-Ghazali merupakan seorang ulama yang memiliki banyak pengalaman dalam dunia pendidikan dan pengajaran, telah meletakkan pula beberapa petunjuk bagi peserta didik untuk menunjang keberhasilan dalam dunia pendidikan. Ada beberapa petunjuk Al-Ghazali yang harus dilaksanakan oleh peserta didik, diantaranya adalah:[8]

1)     Dalam menuntu ilmu pengetahuan, peserta didik dituntut untuk ikhlas dan bersikap tawadhu’ kepada Allah

2)     Agar pelajar mengutamakan kebersihan jiwanya dari kotoran-kotoran budi pekerti dan sifat-sifat tercela.

3)      Agar memperkecil kesibukan-kesibukannya dalam hal duniawi dan menjauhkan diri dari keluarga dan kampong halaman, karena urusan duniawi akan dapat membelokkannya dan memecah perhatiannya

4)     Agar tidak membesarkan diri terhadap ilmu dan jangan meremehkan guru, tetapi menyerahkan seluruh persoalannya kepada guru tersebut serta mendengarkan nasehatnya.

5)     Agar pelajar tidak meninggalkan sesuatu ilmu sampai dia memahami betul maksud dan tujuan ilmu itu.

6)     Agar pelajar dalam mempelajari suatu ilmu harus memperhatikan urutan dan hendaknya dia memulai dari yang terpokok

7)     Agar pelajar mengetahui kaitan ilmu dengan tujuan supaya dia mendahulukan yang dekat atas yang jauh, yang penting atas yang tidak penting.

8)     Peserta didik harus merasa satu bangunan dengan peserta didik lainnya dan sebagai satu bangunan maka peserta didik harus saling menyayangi dan menolong serta berkasih sayng sesamanya[9]

6.      Metode Dan Media

Secara defenisi metode berarti suatu cara yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan sesuatu. Kalau dihubugkan dengan pendidikan maka metode berarti cara atau strategi yang digunakan dalam dunia pendidikan dengan tujuan agar materi yang disampaikan kepada peserta didik dapat dipahami dengan mudah. Sedangkan media berarti alat Bantu yang digunakan agar tercapai sesuatu, dengan kata lain bahwa media merupakan sarana penunjang yang digunakan dalam pendidikan agar tercapainya pemahaman terhadap materi yang diajarkan kepada peserta didik

Mengenai metode dan media yang digunakan dalam propses pembelajaran, menurut Al-Ghazali harus dilihat secara psikologis, sosiologis, maupun pramatis dalam rangka keberhasilan proses pembelajaan. Metode pembelajaran tersebut tidak boleh monoton, demikian pula dengan media atau alat pembelajaran.[10]

Hal ini dimasudkan bahwa dalam pembelajaran tersebut menurut Al-Ghazali harus memperhatikan aspek psikologis dari peserta didik itu sendiri. Secara simpelnya adalah bahwa pemberian metode dan alat pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik harus disesuaikan dengan kondisi kejiwaan peserta didik, serta harus juga memperhatikan tempat tinggal peserta didik. Pemberian metode dan alat tersebut bertujuan agar proses transfer ilmu pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik mudah dipahami dan jangan sampai membuat peserta didik merasa berat untuk memahaminya.

Perihal penggunaan metode pembelajaran, Al-Ghazali berpendapat bahwa seorang pendidik harus menerapkan metode kedisiplinan, pembiasaan serta adanya bimbingan dan nasehat. Sedangkan mengenai alat pendidikan beliau menggunakan adanya pujian serta hukuman yang tidak memberatkan kepada peserta didik. Sebuah contoh diberikan oleh Al-Ghazali yang berhubungan dengan metode pengajaran Seperti contoh “Apabila anak-anak itu berkelakuan baik dan melakukan pekerjaan yang bagus, hormatilah ia dan hendaknya diberi penghargaan dengan sesuatu yang menggembirakannya, serta dipuji di hadapan orang banyak. Jika ia melakukan kesalahan satu kali, hendaknya pendidikmembiarkan dan jangan dibuka rahasianya. Jika anak itu mengulanginya lagi, hendaknya pendidik memarahinya dengan tersembunyi, bukan dinasehati di depan orang banyak, dan janganlah pendidik seringkali memarahi anak-anak itu, karena hal itu dapat menghilangkan pengaruh pada diri anak, sebab sudah terbiasa telinganya mendengarkan amarah itu”.

PENUTUP

Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa pendidikan itu adalah proses memanusiakan manusia yang bertujuan membentuk insan kamil untuk menjadi khalifah di bumi. Dan dengan adanya pendidikan ini diharapkan manusia mampu mencapai tujuan hidupnya di dunia dan akherat, dan hidup yang berpedoman al-Qur’an dan Hadits.

Al-Ghazali merupakan seorang tokoh dalam dunia islam yang memilki peran yang cukup penting dalam penyebaran konsep-konsep yang terdapat dalam ajaran islam. Pemikiran-pemikiran beliau yag cemerlang, membuat beliau tak habis-habis dipelajari. Bukan hanya dari kepribadian beliau saja tapi juag meliputi pemikiran-pemikiran beliau yang sangat cemerlang. Sehingga kita yang hidup pada zaman sekarang bisa dikatakan belum bisa menandingi pemikiran-pemikiran beliau.

Salah satu dari buah pemikiran beliau yang sudah kita bahas diatas ialah mengenai pemikiran beliau tentang dunia pendidikan. Menurut beliau bahwa pendidikan itu amat penting bagi setiap manusia, dan harus dipelajari bahkan manusia tersebut masih dalam ayunan sampai manusia tersebut meninggal dunia.  Proses pendidikan menurut beliau merupakan proses penciptaan manusia yang senatiasa mendekatkan diri kepada Allah denga hasil menciptakan manusia yang mendapatka kebahagiaan di dunia dan di akhirat nanti.

Penulis menyadari begitu banyak kekurang dalam membahas mengenai pemikiran Al-Ghazali dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan masukan dari pembaca yang budiman untuk memperbaiki kesalahan tersebut dan juga sebagai penambah wawasan dari penulis sendiri

REFERENSI

Ghazali, M. Bahri,  Konsep Ilmu Menurut Al-Ghazali, Pedoman Ilmu Jaya, 1991

Nata, Abuddin, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003

Nata, Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997

Madjidi, Busyairi. Konsep Kependidikan Para Filosof Muslim, Yogyakarta: Al Amin Press, 1997

Ramayulis, Samsul Nizar,  Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2009

 


[1]           Abuddin  Nata. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003) H. 83

[2]                Busyairi Madjidi. Konsep Kependidikan Para Filosof Muslim, (Yogyakarta: Al Amin Press, 1997) H. 81

[3]               Abudin  Nata , Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta:Logos Wacana Ilmu, 1997) H. 161

[4]               Ibid, H. 162

[5]                Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, op.cit H. 88

[6]               Ibid, H. 91

[7]               Ramayulis dan Samsul Nizar. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2009) H. 275

[8]               Madjidi, Busyaira, Op.cit, H. 96

[9]               Ramayulis, Op cit. H. 278

[10]             Ibid, H. 278